Hari ini entah mengapa saya teringat dengan kalimat dari Bunda Nina Fadila, seorang perintis sekolah alam di Bangka Belitung. Beliau berkata, "Anak zaman sekarang sudah menampakkan tanda-tanda baligh lebih cepat dari usia seharusnya, padahal akalnya belum sampai ke arah sana. Ngeri saya. Na'udzubillah".
Pernyataan Bunda Nina menggambarkan bahwa ini adalah suatu keadaan serius yang harus diwaspadai dan benar-benar diperhatikan oleh orang tua.
Secara bahasa, akil memiliki arti berakal, memahami, atau mengetahui. Sementara itu, baligh didefinisikan sebagai seseorang yang sudah mencapai usia tertentu dan dianggap sudah dewasa, atau sudah mengalami perubahan biologis yang menjadi tanda-tanda kedewasaannya (Rasjid, 2010: 83).
Saya tidak akan membahas tentang tanda-tanda Akil Baligh di sini. Karena saya meyakini bahwa ayah bunda jauh lebih memahami dari saya. Namun saya lebih menekankan pada bagaimana sikap kita sebagai orang tua dalam menghadapinya.
Saya memiliki ponakan yang sudah mengalami tanda-tanda baligh sejak beliau kelas 4 SD. Ada juga anak saudara teman saya mengalami tanda baligh sejak usia anaknya masih 9 tahun.
Coba kita remind, dulu Ayah bunda baligh pada usia berapa ? Kalau saya dulu baligh saat kelas 1 SMP. Bahkan ada teman saya yang baru baligh kelas 2 SMP dan 3 SMP.
Jika kita bandingkan antara genarasi dulu dan sekarang maka tanda-tanda kemunculan baligh ini mengalami percepatan. Entah anak siap atau tidak, dan entah itu orang tua sudah mempersiapkan anaknya atau tidak. Namun beginilah adanya. Inilah fenomenanya.
Jika ini lepas dari pengawasan orang tua, maka jangan heran munculnya berita tentang anak hamil di luar nikah, siswa SMP berhenti sekolah karena ketahuan hamil, siswa SMP melahirkan di toilet sekolah, dan masih banyak lagi. Astaghfirullah..
Sebagai orang tua maka kita sebaiknya bijak dan memahami bagaimana cara mempersiapkan anaknya untuk siap menerima dirinya tumbuh dan berkembang menjadi Akil Baligh yang sesungguhnya.
Apa yang harus dipersiapkan ?
Anak akil baligh harus dipersiapkan untuk tujuan beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah.
Teknologi selalu berkembang, namun yang tidak pernah berubah adalah Akidah. Untuk itu kita harus mempersiapkan anak baik secara spiritual, sosial dan psikologis.
Secara spiritual : anak sebaiknya diperkenalkan dalam hal beribadah, bertauhid dengan memgang Al-Qur'an dan Sunnah.
Secara Sosial : Persiapan dalam melatih tanggung jawab, adab silaturhaim, dan norma-norma pergaulan sehat.
Secara psikologis : Menjadikan orang tua sebagai sahabat curhat, quality time bersama anak, vitamin A (ayah), puaskan masa bermain.
Sebagaimana Imam ibnu qayyim al jauziah mengatakan "Adanya keterikatan antara al hayaa dan al hayah (kehidupan) karena hati akan hidup dng malu, sebaliknya ia akan mati dng punahnya rasa malu"
Bukankah sedih rasanya jika melihat anak kita lebih sibuk mengumbarkan auratnya di depan sosmed, bergoyang-goyang dan berjoget tanpa rasa malu dengan aplikasi t*kt*k yang sedang viral saat ini. Na'udzubillah..
By. Dahlia Pitriyani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar