Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan.
Kurikulum Anak Usia Dini sendiri artinya seperangkat bahan ajar yang diajarkan kepada peserta didik, khususnya pada usia dini (0-6 tahun) untuk mencapai tumbuh kembang secara optimal.
Saya tidak berbicara bagaimana cara membuat kurikulum. Namun saya hanya menceritakan pengalaman saya pribadi, serta informasi yang saya dengar di luar sana sehingga kita sama-sama belajar bagaiman arahannya dalam membuat kurikulum.
Secara pribadi, saya sendiri tidak pernah merasakan sekolah di PAUD, TK atau semacamnya. Namun secara prestasi akademik di sekolah, saya pernah bahkan bisa lebih dari mereka yang pernah sekolah di Jenjang TK. (sombong dikit) ^.^
Secara karakter dan kepribadian saya juga merasa dapat setara dengan mereka yang pernah sekolah PAUD, TK. Karena saya mendapat ilmu karakter dan kepribadian ini dari orang tua dan guru ngaji saya di kampung.
Lantas pertanyaannya :
Apa bedanya orang yang pernah sekolah PAUD/TK dan tidak ?
Apakah pendidikan PAUD/TK bisa dikatakan sebagai pendidikan yang kurang berhasil ?
Apakah hal ini dikarenakan "Kurikulum Anak Usia Dini yang terlalu Basa Basi"?
Dengan berat hati saya mau bilang "YA".
Bukan berarti saya kontra pada Pendidikan Anak Usia Dini, namun karena saya terlalu sering menemukan sekolah PAUD yang memiliki kurikulum basa-basi. Mengapa basa-basi? Inilah inti pembahasan saya kali ini.
Saya mengatakan ini basa-basi karena banyak hal yang tidak perlu dibahas dalam materi, tidak terlalu penting manfaat untuk anak, bahkan mubazir pembahasannya, mubazir waktu dan mubazir tenaga guru pendidikannya.
Mengapa saya mengatakan mubazir ? Ya,, Guru seharusnya dapat memberikan pemahaman lebih kepada muridnya. Kenyataannya selama ini banyak guru lebih fokus pada sesuatu yang seharusnya tidak terlalu penting, sesuatu yang tidak perlu disampaikan ke anak, sesuatu yang anak sudah pasti tahu, karena memang sudah fitrah anak untuk tahu pada usianya.
Contoh :
Tema : Mengenal anggota tubuh (Mata, tangan, hidung, telinga, kaki dll)
Dalam tema ini guru lebih banyak fokus pada mengenalkan Ini mata, ini tangan, ini telinga, ini kaki, ini hidung. Mata ada dua, tangan ada dua, kaki ada dua . Padahal materi ini masuk dalam kategori fitrah. Tanpa dikasih tahu juga anak pasti tahu pada waktunya.
Tema : Tanaman
Dalam tema ini guru lebih banyak fokus mengenalkan ini daun, ini batang, ini akar, ini bunga, dan ini buah. Padahal ini juga adalah fitrah manusia mengetahuinya.
Darimana saya tahu bahwa ini fitrah ?
Percaya atau tidak, anak yang tidak bersekolah pun tahu mana mata, telinga, hidung, tangan dan kaki. Mereka juga tahu bahkan mungkin lebih paham mana itu daun, akar, batang, bunga dan buah. Inilah yang disebut fitrah.
Jika guru masih mengajarkan hal fitrah ini, lantas apa bedanya anak yang sekolah dan tidak bersekolah?
Aakah ini yang dikatakan tidak mubazir secara waktu dan tenaga ?
Pernah mendengar istilah, "Kita wajib mengajar anak sesuai fitrah nya ?".
Artinya fitrah anak itu sudah ada, itu urusan Allah, Allah yang ngasih. Anak tahu anggota tubuhnya, itu sudah dari Allah. Itu sudah fitrahnya anak untuk tahu. Tidak perlu kita buang waktu dan tenaga untuk memberikan materi itu.
Lantas apa tugas kita, tugas guru di sekolah ? Tugas kita hanya mengarahkan pada Sunatullah yang baik sesuai fitrahnya anak.
Sunatullah itu tidak jauh dari Sebab dan Akibat.
Contoh ringan : Sebabnya berbuat baik, akibatnya baik. Sebabnya berbuat jahat, akibatnya celaka.
Jadi kemana arahnya kurikulum yang tidak mubazir itu ?
Kita harus tau dasarnya kita hidup itu hanya untuk bisa menjawab 3 pertanyaan, yaitu : Dari mana ?, Untuk apa?, hendak kemana ?
Jadi, saya sarankan jika mau membuat kurikulum, cukup ikuti 3 pertanyaan ini.
Contoh :
Tema : Mengenal Anggota Tubuh
Materi :
1. Dari mana mata, tangan, kaki, hidung, dan telinga kita ini ? Siapa yang menciptakannya ?
2. Digunakan untuk apa mata, tangan, kaki, hidung, dan telinga kita? Bagaimana menggunakannya agar bermanfaat untuk dunia dan akhirat ?
3. Hendak kemana dan bagaimana kita mempertanggungjawabkan mata, tangan, kaki, hidung, dan telinga, yang kita punya ini ?
Kegiatan Karakter :
1. Makan dengan tangan kanan, mengambil makanan dengan mengucapkan basmalah, diniatkan karena Allah.
2. Bernafas dengan hidung, setiap tarikan nafas penuh rasa kebersyukuran karena Allah.
3. Mendengar dengan telinga, dengarkan hal-hal yang baik saja, seperti mendengar murothal, sholawat. Bersyukur karna Allah membuat kita bisa mendengar.
4. Mengambil sesuatu dengan tangan dimulai dengan bismillah, bersyukur ketika mempu memegang dan membuat sesuatu yang baik dengan tangan.
Jadi materi yang baik itu adalah fokus pada VALUE. Nilai-nilai karakter kebaikannya. Sehingga terlihat jelas mana anak yang berilmu dan mana yang tidak.
Dalam islam, menuntut ilmu itu juga adalah ibadah, sehingga hasil yang didapatkan seharusnya bernilai ibadah. Dengan ilmu kita dapat membuktikan kekuasaan Allah SWT. Ilmu bertujuan untuk menguatkan kepercayaan dan keimanan kita kepada Allah. Ilmu memberikan kepada yang memiliki pengetahuan untuk membedakan apa yang terlarang dan yang tidak, ilmu menerangi jalan ke surga.
Perbedaan yang jelas antara orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu. Hanya orang yang berilmu yang mempu memahami hakikat sesuatu yang disampaikan Allah melalui perumpamaan-perumpamaan ( Q.S 29 : 43 ).
Seperti dalam sabda Nabi SAW : “ barang siapa yang menginginkan kebaikan di dunia hendaklah ia mencari ilmu, barang siapa yang menginginkan kebaikan di akhirat hendaklah ia mencari ilmu dan barang siapa yang menginginkan kedua-duanya hendaklah ia mencari ilmu.”
Jadi,, Pastikan sekolah menjadi tempat untuk mendapatkan ilmu. Jangan sampai ada kata-kata dari orang tua yang mengatakan, " Anak saya sekolah PAUD atau tidak sekolah PAUD sama saja". Lucu bukan jika ada orang tua yang berpikir demikian. Kemana perannya sekolah ?
By. Dahlia Pitriyani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar