Satu kalimat yang saya ingat dari seorang guru bahwa, "Menyantuni anak yatim itu tidak sekedar kita kasih uang, lalu selesai. Itu sedekah, iya, tapi itu bukan cara menyantuni anak yatim yang diajarkan oleh Rasulullah".
Sekian lama, saya baru mencerna maksud kalimat dari seorang guru ini. Anak yatim ini kehilangan sosok seorang ayah. Maka yang dia butuhkan adalah seorang ayah. Untuk itu, menyantuni anak yatim adalah bagaimana caranya agar kita dapat menjadi pengganti sosok yang hilang ini, yaitu ayahnya.
Mungkin kita tidak dapat menjadi sosoh ayah utuh seperti yang mereka mau. Namun setidaknya kita dapat berada di sampaingnya, layaknya seorang ayah. Jika mereka sedang lelah, maka ada kita yang siap menghiburnya. jika mereka sedih, maka ada kita yang akan memeluknya. Jika mereka butuh teman curhat, maka ada kita yang siap untuk mendengarkannya. Jika mereka sedang lapar dan kedinginan, maka ada kita yang menyiapkan bahan makanan, kain dan pakaiannya. Pun jika mereka butuh sekolah, maka ada kita yang bertanggung jawab akan pendidikannya. Layaknya seorang ayah yang selalu ada untuk anaknya, maka kita pun akan selalu ada untuk mereka.
Menyantuni anak yatim itu bukan hanya sekedar tentang perut yang lapar. Bukan sekedar sekali kasih bantuan, lalu kita menghilang. Namun menyantuni anak yatim itu adalah kita benar-benar menanggung kebutuhan mereke.
Sayangnya kita terbiasa berbagi kepada anak yatim hanya setahun sekali, atau jika kita hanya ada hajat. Ya... itu baik, kita diperbolehkan apabila bersedekah kepada anak yatim lalu bertawassul agar segala hajat kita Allah kabulkan.
Namun, apakah hanya itu yang kita harapkan? padahal Rasulullah sudah menjanjikan bahwa, "Aku dan orang yang menanggung anak yatim seperti ini di surga". Kemudian, beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah yang menunjukkan kedekatan dan kebersamaan.
Tidak inginkah kita dikenal oleh mereka, anak yatim ini?
Tidak inginkah kita menjadi salah satu orang yang namanya disebut oleh lisan anak yatim setiap mereka berdo'a selesai sholat?
Tidak inginkah kita ketika di akhirat dicari-cari atau ditunggu-tunggu kehadirannya oleh anak yatim di surga?
Logikanya, bagaimana mungkin mereka akan memanggil kita di surga-NYA kelak, jika di dunia pun mereka tidak kenal dengan kita? jangankan kenal, mungkin nama kita saja mereka tidak ada yang tau. Ataghfirullah.... 😔
by : @dahliafitriyani_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar