Senin, 11 Maret 2024

IBUNDA PARA ULAMA

Seorang wanita, baik seorang ibu atau gadis adalah pilar masyarakat. Mereka memiliki peranan besar dalam mendidik.

Menjadi seorang ibu tidaklah mudah. namun jangan khawatir, ada yang bisa kita syukuri ketika kita menjadi umat akhir zaman. Yaitu kita dapat belajar dari umat-umat terdahulu, umat terbaik di zaman Rasulullah. Bagaimana mereka mendidika dan menanamkan karakter mulia kepada buah hatinya, menanamkan dasar-dasar agama dan pokok-pokok akidah islamiyah untuk buah hatinya. lalu menjadi pribadi-pribadi mulia, tertempa menjadi anak-anak akhirat bukan anak-anak dunia.

Kita dapat belajar dari :
1. Ibu Imam Ahmad
Imam Ahmad pernah bercerita, "Dahulu ibukulah yang telah menuntun diriku hapal Al-Qur'an saat aku berumur 10 tahun. Ia selalu membangunkanku sebelum sholat fajar. Ia memanaskan air untukku di malam-malam yang amat dingin di baghdad dan memakaikan untukku pakaianku. Lalu ia memakai cadar dan hijabnya untuk mengantarkanku ke masjid karena rumah kami jauh dari masjid dan jalanan gelap.

2. Kita dapat belajar dari Ibu Imam Mali bin Anas.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Uwais dari Ibu Malik bin Anas, ia mengatakan, "Aku mendengar pamanku, Malik bin Anas bercerita, 'dulu Ibuku biasa memakaikan pakaian dan mengenakan imamah untukku saat aku masih kecil. kemudian ia mengantarkaku kepada Rabi'ah bin Abdirrahman. Lalu ibuku berkata, 'Anakku, datanglah ke majelisnya Rabi'ah. Pelajari akhlak dan adabnya sebelum engkau mempelajari hadits dan fikih darinya'.

3. Kita juga dapat belajar dari Ibu Sultan Muhammad Al Fatih
Setelah sholat subuh saat Sultan Muhammad Al Fatih masih kecil, ibundanya biasa membawa dia dan akan menunjukkan kepadanya tembok-tembok konstantinopel, seraya berkata, "Engkau wahai Muhammad Al-Fatih akan membebaskan wilayah ini. Namamu adalah Muhammad sebagaimana sabda Rasulullah saw, Muhammad Al Fatih kecil pun bertanya, "Bagaimana aku bisa membebaskan wilayah sebesar itu wahai ibu?". Ibunya menjawab, "Dengan Al-Qur'an, Kekuatan, persenjataan, dan mencintai manusia". Jawab sang Ibu dengan penuh hikmah.

4. Kita pun dapat belajar dari seorang Ibu Imam Asy-Syafi'i
Ayah Imam Syafi'i wafat dalam usia muda. Ibunyalah yang membesarkan, mendidik, dan memperhatikannya hingga kemudia beliau Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i menjadi seorang imam besar. Imam Asy-Syafi'i bercerita tentang masa kecilnya. 
"Aku adalah seorang anak yatim, Ibukulah yang mengasuh ku. Namun ibuku tidak memiliki biaya untuk pendidikanku. Aku menghapal Al-Qur'an saat berusia 7 tahu. Dan menghapal kitab Al-Muwaththa saat berusia 10 tahun. Setelah menyempurnakan hafalan AlQur'an ku, aku masuk masjid, duduk di majelisnya para ulama. Kuhafalkan hadist atau suatu permasalahan. Rumah kami berada di Shu'ab Al-Haif, keadaan kami di masyarakat berbeda, aku tidak memmiliki uang untuk membeli kertas. Aku pun menjadikan tulang sebagai tempat menulis".
Imam As-Syafi'i berkata, : Aku kembali kepada ibuku dan berkata kepadanya, "Wahai Ibu, aku belajar merendahkan diri di hadapan ilmu dan beradap kepada guru".

5. Ibu Ibnu Taimiyah
"Demi Allah, seperti inilah caraku mendidikmu, aku nadzarkan engkau untuk berkhidmat kepada islam dan kaum muslimin. Aku mendidikmu di atas syariat agama, dan jangan kau sangka wahai anakku, bahwa engkau berada disisiku itu lebih aku cintai dibanding kedekatanmu pada agama, berkhidmat untuk islam dan kaum muslimin walaupun kau berada di penjuru negeri. 
Wahai anakku, puncak keridhoanku kepadamu berbanding lurus dengan apa yang kau persembahkan untuk agamamu dan kaum muslimin. Aku, wahai anakku, tidak akan bertanya kepadamu kelak di hadapan Allah tentang jarakmu dariku, karena aku tau dimana dan dalam keadaan bagaimana kau berada. Tetapi wahai Ahmad, yang akan kutanyakan kepada Allah kelak tentangmu adalah, "Apakah kau telah mengurangi khidmatmu kepada Allah dan saudara-saudaramu kaum muslimin."
Inilah surat yang ditulis Ibu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kepada dirinya.

6. Ibnu Sufyan Ats-Tsaury
Sufyan mengisahkan, "Saat aku berencana ingin menuntut ilmu, aku bergumam, "Ya RAbb, aku harus memiliki penghasilan (sebagai modal belajar). Dan aku melihat ilmu itu pergi dan menghilang. Aku bergumam lagi :, "Apakah kuurungkan saja keinginanku untuk menuntut ilmu. Aku memohon kepada Allah agar Dia yang Maha Memberi Rezeki mencukupiku".
Maka datanglah pertolongan Allah melalui ibunya. Ibunya berkata, "Wahai Sufyan anakku, belajarlah, carilah ilmu, aku yang akan menanggungmu dengan usaha memintalku (menenun)". Ibunya memotivasi, menyemangati, dan menasihatinya agar semangat meraih ilmu. Diantara ucapan ibunya adalah, "Wahai anakku, jika engkau menulis 10 huruf, lihatlah! apakah kau dapati dalam dirimu bertambah rasa takutmu kepada Allah, kelamah lembutanmu, dan ketenanganmu?, jika tidak engkau dapati hal itu, ketahuilah ilmu yang engkau catat berakibat buruk bagimu dan tidak bermanfaat bagimu".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar