Pagi ini qodarullah saya tertarik melihat komentar dari postingan Ustadz Andre Raditya. Beliau menjelaskan bahwa, "Kita harus bisa membedakan mana kehendak Allah dan mana kehendak makhluk dan membedakan apa itu takwa mastatho'tum dan tawakal".
Banyak yang salah konsep dalam memahami ilmu ini termasuk saya. Karena itu saya sangat ingin lebih memahami konsep dari mastatho'tum itu sendiri.
Apa itu mastatho'tum. Dalam Al-Qur'an kata mastatho'tum terdapat dalam surat At-Taghabun ayat 16 yang dikorelasikan dengan kata taqwa, "Dan bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai kesanggupanmu (semampunya)".
Namun kita kadang salah dalam mengartikan kata "sesuai kesanggupanmu (semampunya)".
Kadang kita berdalih, "Inilah yang hanya bisa saya lakukan".
"Saya mampu hanya membaca Al-Qur'an dua lembar per hari"
"Saya mampu hanya salat tarawih delapan rakaat"
"Saya mampu hanya......"
"Saya mampu hanya....."
"Saya mampu hanya ......"
Tanpa disadari bahwa kita sering kali menarget standar kesanggupan (kemampuan) ini terlalu lemah, terlalu remeh.
Dalam kisah Syekh Abdullah Al Azzam, seorang syekh tauladan dan dihormati pernah ditanya oleh muridnya. "Hai syekh, apa itu mastatho'tum?".
Lantas Syekh Abdullah Al Azzam mengajak anak muridnya ke lapangan dan menyuruh mereka berlari semampu mereka. Lalu semua murid berlari mengelilingi lapangan sampai mereka letih dan berhenti lalu menepi.
Melihat muridnya telah letih dan beristirahat di lapangan, giliran Syekh Abdullah Al Azzam yang berlari sekuat tenaga mengelilingi lapangan hingga beliau letih dan pingsan. Ketika gurunya pingsan para muridnya pun berlari menandu dan menunggu gurunya hingga sadar.
Saat sadar Syekh Abdullah bangun dan berkata "Inilah yang dimaksud dengan mastatho'tum (samampunya dan sesuai kesanggupan). Kita berusaha dan berikhtiar semaksimal mungkin sampai Allah Ta'ala yang mengakhiri dan menghentikan perjuangan kita (Bukan kita yang berhenti)".
"Jika kau telah berada di jalan Allah, melesatlah dengan kencang. Jika sulit maka tetaplah berlari, meski kecil langkahmu. Bila engkau lelah, berjalanlah menghela lapang. Dan bila semua itu tak mampu kau lakukan, tetaplah maju meski terus merangkak, dan jangan pernah sekalipun berbalik ke belakang". (Asy Syafi'i)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar